Showing posts with label Kisah Tauladan. Show all posts
Showing posts with label Kisah Tauladan. Show all posts

RIBUAN MALAIKAT MENDOAKAN ORANG YANG DICACI MAKI ..

Suatu hari, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq.

Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar.
Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu.
 
Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya.
Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah.
Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.
 
Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar.
 
Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar.
Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya,
Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut.
Rasulullah kembali memberikan senyum....
Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut.
 
Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan.
Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu,
Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya.
Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula.
Terjadilah perang mulut.
Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya.
Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah.
Kemudian Abu Bakar berkata,
"Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!"

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab,
"Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas,
aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah Ta'ala.

"Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum.
Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.
Hadirlah iblis di sisimu.
 
Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.
Setelah itu menangislah abu bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung...subhanallah

Semoga kita semua tergolong orang-orang yang Sabar dan berakhlak yang luhur

sumber :
Kitab Sejarah Khalifah Abu Bakar Siddiq Ra, Syaikh S. Al Mubarakfury
Read More..

REJEKI BANYAK BENTUKNYA



Kemarin hujan mulai jam 9 pagi, seorang tukang rujak numpang berteduh di teras ruko saya ( Yeti Haryati) .

Masih penuh gerobaknya, buah-buah tertata rapi. Kulihat beliau membuka buku kecil, rupanya Al Quran. Beliau tekun dengan Al-Qurannya. Sampai jam 10 hujan blm berhenti.

Saya mulai risau karena sepi tak ada pembeli datang.

Saya keluar memberikan air minum.
“Kalau musim hujan jualannya repot juga ya, Pak… ” .. "Mana masih banyak banget.”

Beliau tersenyum, “Iya bu.. Mudah-mudahan ada rejekinya.. .” jawabnya.

“Aamiin,” kataku.

“Kalau gak abis gimana, Pak?”. tanyaku.

“Kalau gak abis ya risiko, Bu.., kayak semangka, melon yang udah kebuka ya kasih ke tetangga, mereka juga seneng daripada kebuang. kayak bengkoang, jambu, mangga yang masih bagus bisa disimpan. Mudah-mudahan aja dapet nilai sedekah,” katanya tersenyum.

“Kalau hujan terus sampai sore gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Alhamdulillah bu… Berarti rejeki saya hari ini diizinkan banyak berdoa. Kan kalau hujan waktu mustajab buat berdoa bu…” Katanya sambil tersenyum.

“Dikasih kesempatan berdoa juga rejeki, Bu…”

“kalau gak dapet uang gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Berarti rejeki saya bersabar, Bu... Allah yang ngatur rejeki, Bu… Saya bergantung sama Allah.. Apa aja bentuk rejeki yang Allah kasih ya saya syukuri aja. Tapi Alhamdulillah, saya jualan rujak belum pernah kelaparan.

“Pernah gak dapat uang sama sekali, tau tau tetangga ngirimin makanan. Kita hidup cari apa Bu, yang penting bisa makan biar ada tenaga buat ibadah dan usaha,” katanya lagi sambil memasukan Alqurannya ke kotak di gerobak.

“Mumpung hujannya rintik, Bu… Saya bisa jalan ..Makasih yaa ,Bu…”

Saya terpana… Betapa malunya saya, dipenuhi rasa gelisah ketika hujan datang, begitu khawatirnya rejeki materi tak didapat sampai mengabaikan nikmat yang ada di depan mata.

Saya jadi sadar bahwa rizki hidayah, dapat beribadah, dapat bersyukur dan bersabar adalah jauh...jauh lebih berharga daripada uang, harta dan jabatan..

Disadur dari Facebook Ustadz Fatih Karim
Read More..

Keajaiban Sedekah



Tersebutlah seorang ibu solihah. Beliau memiliki seorang putra yang menjadi tulang punggung keluarga. Di rumahnya yang penuh keterbatasan, sang ibu menunggu kapan putranya pulang. Dia pergi melakukan safar yang jauh. Hingga sang ibu putus asa, sementara sisa makanan tinggal cukup beberapa hari.

Suatu hari sang ibu sedang bersiap untuk menyantap makan siangnya. Ketika beliau mengambil suapan pertama dan siap untuk dilahap, tiba-tiba di depan pintu ada pengemis yang meminta makanan. Beliaupun tidak jadi melanjutkan suapannya. Beliau menaruh suapannya dan menyerahkan satu porsi makanan itu ke pengemis. Sehari itu, sang ibu menahan lapar.

Ternyata selang beberapa hari, tibalah putranya yang lama dia nantikan. Mulailah dia bercerita tentang kejadian yang luar biasa kepada ibunya,

Ada kejadian luar biasa yang aku alami. Setelah beberapa hari saya melintasi jalur di daerah tertentu, tiba-tiba keluar seekor singa. Sehingga akupun memegang erat punggung keledai yang aku naiki. Namun singa itu menyerang keledai. Dan kuku singa itu telah mengoyak jaket yang aku bawa, baju dan jubahku. Ketika cakarnya menghantam badanku, saya tercengang dan hampir hilang ingatan. Singa inipun membawaku dan menyeretku ke belukar yang tidak jauh. Dia bersiap untuk mengoyakku.

Tiba-tiba saya melihat orang berbadan besar, wajah dan bajunya putih, datang dan langsung memegang singa tanpa senjata. Dia naik dan pergi menghilang.

Ketika itu, orang besar tadi mengatakan: ‘Berdirilah wahai singa, satu suapan dengan satu suapan.’ Singa itupun berdiri dan lari meninggalkanku.

Akupun mencari lelaki itu, dan aku tidak berhasil menemukannya. Saya duduk menenangkan diri di tempat itu dan kembali mengambil bekal makananku. Akupun memperhatikan badanku, ternyata tidak ada satupun yang terluka. Kulanjutkan perjalanan, hingga aku bisa menyusul rombongan. Mereka sangat terheran melihat kejadian yang kualami. Namun saya kebingungan, apa makna ‘satu suapan dengan satu suapan.’

Mendengar ini, sang ibu memahami. Karena kejadian itu bersamaan dengan peristiwa saat beliau memberikan sedekah makanan. Beliau tidak sempat menelan satu suap, dan diberikan kepada orang yang membutuhkan. Dengan itu, Allah selamatkan anaknya dari ‘suap’ singa.

[Kisah ini disebutkan oleh At-Tanuji dalam kitab: Al-Faraj ba’da As-Syidd]

Disadur dari pengusaha muslim.com

Read More..

Izinkan saya berzina dengan anak Bapak !!!


Suatu hari sepasang muda-mudi akan pergi untuk berjalan-jalan. Setibanya pemuda di rumah orang tua sang gadis untuk menjemputnya.

Gadis: Masuk dulu ya, bertemu sama ayah
Pemuda : Boleh kah?
Gadis: Masuk saja, saya bersiap-siap dulu.

Masuklah sang pemuda melalui pintu utama. Pintu yang siap terbuka mengelu-elukan
kedatangan si pemuda.

Pemuda : Assalamualaikum.
Ayah Gadis : waalaikumussalam!

Mendengar lantangnya suara Ayah si gadis, si pemuda kaku membatu. Lantas si gadis menyadarkan pemuda dari lamunan itu. Entah apa yang dipikirkannya.

Gadis : Mari, silahkan duduk
Pemuda : eh.,iyaa

Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, duduklah si Pemuda di kursi yang hampir menghadap Ayah si gadis. Hanya koran yang menjadi ‘sitroh’ antara mereka.

Ayah Gadis : hendak jalan kemana hari ini?
Pemuda : ke Kota saja Pak, dia mau mencari barang katanya. entah barang apa saya tidak tahu.
Ayah Gadis : oh..
Pemuda : . . .

Hampir 5 menit suasana senyap tanpa suara.
Dan ibu si gadis keluar dari ruang belakang membawa air dan kue kering.
Si Pemuda pun tersenyum manis.

Ibu Gadis : Silahkan diminum dulu nak. Kamu sudah sarapan?
Pemuda : eh, Sudah Bu. Terima kasih.
Ibu Gadis : kamu ini malu-malu segala dengan kami.
Pemuda : saya hanya segan Bu. Hehe
Ayah Gadis : kapan kamu mau mengirim rombongan (lamaran)?
Ibu Gadis : eh, ayah ini?

Pemuda : hmm. Saya belum memiliki banyak uang Pak. Hehe
Ayah Gadis : kamu bawa anak kami kesana-kemari. Apa orang kata nanti?
Pemuda: (sebenarnya Malu dengan orang lain, serta malu dengan Allah). Setiap kami pergi kami selalu naik mobil Pak, tidak pernah berdekatan apalagi sampai bergandeng tangan.
Oh iya, bisa saya tanya sedikit Pak?
Ayah Gadis : tentu saja, silahkan!

Pemuda : bapak dan ibu ingin saya
menyediakan uang berapa untuk lamaran ini?
Ibu Gadis : kalau bisa Rp.20.000.000,-
Ayah Gadis : ehh, tapi kalau bisa lebih besar dari orang sebelah yang naksir juga sama gadis.
Pemuda : Maaf, Berapa itu Bu?
Ayah Gadis : Rp.40.000.000,- syukur-syukur bisa lebih
Pemuda : (Ya Allah, whhooa.. Rp.40.000.000,- darimana saya dapat uang sebanyak itu, aduh)
Besar sekali Pak, apakah tidak bisa lebih sedikit, kita buat acara sederhana saja. Cukup mengudang keluarga, saudara dan tetangga dekat?
Ayah Gadis : itu nasib kamu nak, kamu yang akan menikahi anak kami. Lagipula dialah satu-satunya anak perempuan kami.

Si Pemuda pun hampir hilang akal ketika disebutkan ‘harga’ si gadis itu. Dan si Pemuda mencoba kembali berdiskusi dengan orang tua gadis pujaan hatinya.

Pemuda : Boleh saya bertanya lagi, apakah anak bapak pandai memasak?
Ayah Gadis : hmm,.boro-boro. Bangun tidur saja jam 10 lebih, bukan bangun pagi lagi itu. Habis bangun terus langsung makan siang.
Ibu Gadis : Apa sih ayahnya ini, anaknya mau dijadikan istri, dia malah cerita yang jelek-jelek.
Ayah Gadis : Ibunya pun sama suka terlambat bangun juga.
Ibu Gadis : ih ayah ini!

Pemuda: (bengong) Ehh.. iya cukup pak,
sekarang saya sudah tau. Kalau boleh bertanya lagi, bisa kah dia membaca Qur’an?
Ibu Gadis: bisa sedikit-sedikit kok
Pemuda : belajar dengan maknanya?
Ibu Gadis : mungkin.
Pemuda : hmm.
Ibu Gadis : kenapa?
Pemuda : Oh, tidak apa - apa bu. Pertanyaan terakhir, apakah dia rajin sholat?
Ayah Gadis : Apa maksud kamu tanya semua ini !? Dia kan dekat dengan kamu. Harusnya kamu juga tahu.
 Pemuda : Setiap sedang diluar dan saya ajak sholat, dia selalu bilang sedang datang bulan. Sedikit - sedikit datang bulan. Saya jadi bingung, sebenarnya dia bisa sholat tidak.
Ayah dan Ibunya begitu kaget. Dan pada wajahnya begitu kemerahan menahan amarah.

Pemuda : Boleh saya sambung lagi. Dia tak bisa masak, tak bisa sholat, tak bisa mengaji, tak bisa menutup aurat dengan baik. Sebelum dia menjadi istri saya, dosa-dosanya juga akan menjadi dosa bapak dan ibu. Lagipula tak pantas rasanya dia dihargai Rp.40.000.000,-. Kecuali dia hafidz Qur’an 30 juz dalam kepala, pandai menjaga aurat, diri, dan batasan-batasan agamanya. Barulah dengan mahar Rp.100.000.000,-pun saya usahakan untuk membayar.

Tapi jika segala sesuatunya tidak harus dibayar mahal mengapa harus dipaksakan untuk dibayar mahal ?
Seperti halnya mahar. Sebab sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar. Mata ayah si gadis direnung tajam oleh mata ibu si gadis. Keduanya diam tanpa suara.
Sekarang ketiganya menundukkan kepala. Memang sebagian adat menjadikan anak perempuan untuk dijadikan objek pemuas hati
menunjukkan kekayaan dan bermegah-megah dengan apa yang ada, terutama pada pernikahan. Adat budaya mengalahkan masalah agama. Para orang tua membiarkan bahkan menginginkan anak perempuan dihias
dan dibuat pertunjukkan di muka umum.
Sedangkan pada saat akad telah dilafadz oleh suami, segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami.

Ayah Gadis : tapi kan, ayah hanya ingin anak ayah merasakan sedikit kemewahan. Hal seperti tu kan hanya terjadi sekali seumur hidup.
Pemuda : Bapak ingin anak bapak merasakan kemewahan?
Ibu Gadis : tentulah kami berdua pun turutgembira.

Pemuda : sungguh demikian ? boleh saya sambung lagi? bapak, ibu.. saya bukanlah siapa - siapa. Sekarang dosa anak Bapak, Bapak juga yang tanggung. Esok lusa setelah akad nikah terus dosa dia saya yang tanggung.
Belum lagi pasti bapak dan ibu ingin kami bersanding lama di pelaminan yang megah, anak Ibu dirias dengan riasan secantik-cantik­nya dengan make up dan baju paling mahal, di
hadapan ratusan undangan agar kami terlihat mewah pula. Salain setiap mata yang memandang kami akan mendapat dosa. Apakah begitu penting hal tersebut jika dalam
kehidupan sehari-hari kita malah berusaha untuk hidup sesederhana mungkin tanpa berlebih-lebihan.
Ibu si gadis segera mengambil langkah mudah dengan menarik diri dari pembicaraan itu. Si ibu tahu, si pemuda berbicara menggunakan fakta islam. Dan tidak mungkin ibu si gadis dapat melawan kata si pemuda itu.

Ayah Gadis : Kamu mau berbicara mengajari masalah agama di depan kami?
Pemuda : ehh. maaf pak. Bukan saya hendak berbicara / mengajari masalah agama. Tapi itulah hakikat. Terkadang kita terlalu memandang pada adat sampai lupa agama.
Ayah Gadis : sudah lah. Kamu sediakan Rp.40.000.000,- kemudian kita bicarakan lebih lanjut. Kalau tidak ada, kamu tak bisa kimpoi dengan anak ku!
Pemuda : Semakin lama lah hal itu. Mungkin di umur saya 30 atau lebih, saya baru bisa mengumpulkan uang tersebut dan bisa masuk meminang anak bapak.
Baiklah, .kalau memang bapak berharap tetap demikian, maka ’izinkan saya berzina dengan anak bapak’?
Ayah Gadis : hei! Kamu sudah berlebihan!, kamu jaga baik-baik omongan kamu itu.
Pemuda : dengar dulu penjelasan saya pak. Apa bapak tahu alas an orang berzina dan banyak orang memiliki anak di luar nikah? Sebab salah satunya hal seperti ini lah pak.
Selalu saja orang tua perempuan
menempatkan puluhan juta rupiah untuk mahar, harus menunggu si pria mempunyai pekerjaan dengan gaji begitu tinggi, sampai pihak pria terpaksa menunda keinginan untuk
menikah. Tetapi cinta dan nafsu kalau tidak diwadahi dengan baik, setan yang jadi pihak ketiga untuk menyesatkan manusia.
Terlebih di zaman seperti ini yang cobaan dan kondisinya tidak seperti zaman bapak dan ibu dulu. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas
memuaskan nafsu serakah dengan berzina. Pertama memang hal yang ringan-ringan dulu pak, pegang-pegangan tangan, saling
memeluk, dan sebagainya. Tapi semakin lama akan menjadi hal berat. Yang berat-berat itu bapak sendiri pun bisa membayangkan.
Ayah Gadis : lantas apa kaitan kamu dengan hendak berzina pula !?
Pemuda : Begini logikanya. Sepertinya yang terjadi dengan anak-anak lainnya. Bapak tidak memberi izin kami menikah sekarang, biar ada berpuluh juta uang dulu baru bisa menikah.
kami hendak melepaskan nafsu bagaimana pak? setiap harinya kami mengenal lebih dekat dan semakin dewasa. Dia meminta saya menengoknya, semakin cinta
saling melepas rasa rindu. Susah pak, itu Nafsu yang diberikan kepada manusia. Sebab itu saya dengan rendah hati meminta izin pada
bapak untuk berzina dengan anak bapak. Terlepas apakah yang penting bapak tahu saya dan dia hendak berzina. Sebab rata-rata orang
yang berzina itu orang tua tidak tau pak, tidak. Kelihatannya pemuda -pemudi zaman sekarang biasa-biasa saja padahal sebenarnya sudah pernah bahkan sering berzina. Ironisnya banyak orang menganggap
hal itu tidak tabu lagi. Berzina bukan saja hal yang ehem-ehem saja.
Ada zina-zina ringan, zina mata, zina lidah, zina telinga dll. Tapi sebab hal ringan itu lah yang akan menjadi berat.
Ayah Gadis : hmm. Kamu ini begitu pelik dan memperumit saja. Beruntung kamu bukan orang lain. Kalau orang lain, sudah dari tadi saya angkat parang. Begini nak, Tapi kalau tidak ada uang, bagaimana kamu akan memberi dia makan??
Pemuda : hehe. Bapak. lupakah Bapak dengan apa yang telah Allah pesankan pada kita.

"Dan menikahlah orang-orang bujang (pria dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang
sholeh dari hamba-hamba kamu, pria dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka.
sesungguhnya karunia Allah Maha luas (rahmat dan karunianya), lagi Maha
Mengetahui."
(An Nur 32).


Apakah kita tak yakin dengan apa yang Allah janjikan. Bapak dan Ibu juga pernah lah menjadi muda. Masalah datangnya harta, selagi kita
terus berusaha itu adalah Rahmat-Nya yang sudah ditakdirkan pada tiap-tiap hamba-Nya. Lagipula pak, kalau makan dan minum itu Insya Allah, saya sanggup untuk memberikannya. Tempat tinggal bisa kita bicarakan lagi.
Kalau hal ini bisa menghalangi kami dari melakukan dosa dan sia-sia. Apakah tidak lebih baik disegerakan. Bapak pun tak mau hal-hal tak tidak diinginkan terjadi.

Bapak si Gadis Diam tanpa kata, merenung kata - kata si pemuda, berusaha memikirkan cara untuk mematahkan kata-kata si Pemuda.
Dan ayah si gadis mendapat akal.

Ayah Gadis : kamu tahu lah zaman sekarang ni. Kalau mengikuti cara kamu itu. Mungkin kamu tidak suka dengan acara persandingan yang
mewah, Bapak bisa terima. Tapi kamu apa bisa menerima apa yang akan orang-orang katakan. Orang akan mengatakan anak aku ‘kecelakaan’ dan terpaksa menikah dengan
kamu. Mau ditaruh dimana muka ini.
Pemuda : bagus juga pikiran bapak itu. Kalau 'kecelakaan' mana mau saya menikahi anak bapak.
Karena akan selamanya menjadi haram, orang yang zina tidak akan pernah menjadi halal sekalipun dengan pernikahan. Kalau bapak memaksa ya sudah. Bisa ikut nikah masal kan bagus juga bisa berhemat tapi tetap ramai.
Ayah Gadis : serius lah nak!
Pemuda : begini pak, sekali lagi rasanya tidak perlu membayar puluhan juta dan mahar yang berlebihan sehingga memaksa diluar kemampuan. Tapi saya tak mengatakan tidak
ada walimatul urus. Sedang walimatul urus itu tetap perlu dan disesuaikan dengan kemampuan. itu cara islam.
Saya bukan hendak macam-macam dengan bapak. Syariat memang seperti itu. Maha baiknya Allah sebab masih menjaga kita selama ini, tapi hal sepele seperti ini pun kita masih memandang ringan dan kita tak percaya
dengan apa yang telah Allah janjikan.
Saya benar-benar minta maaf kalau ada kata-kata saya yang membuat bapak tidak senag terhadap saya. Tidak juga bermaksud tidak
takdzim dengan bapak dan ibu. Segalanya kita serahkan pada Allah, kita hanya bisa merencanakan saja.

Azan dzuhur berkumandang, jaraknya tidak sampai 10 rumah dengan rumah si gadis. Si pemuda memohon untuk ke surau dan mengajak bapak si untuk pergi bersama. Namun ajakan ditolak dengan lembut. Lantas sang pemuda memberi salam dan memohon
untuk keluar.
Di pinggir jendela tua si gadis melihat si
pemuda mengeluarkan kopiah dari sakunya dan segera di pakainya. Lalu masuk mobil dan hilang dari penglihatan si gadis tadi.
Sedang si gadis yang sedari tadi berdiri di balik tirai bersama ibunya meneteskan air mata
mendengar curahan kata-kata si pemuda terhadap ayahnya. Kerudung lebar pemberian si pemuda sebagai
hadiah padanya yang lalu digenggam erat. Ibu si gadis juga meneteskan air mata melihat pada perilaku anaknya.
Segera ibu dan si gadis ke ruang tamu
menghadap ayahnya.

Ibu Gadis : Apa yang anak itu katakan benar. Kita ini tak pernah memperhatikan syariat-syariat
ringan agama selama ni. Terlalu melihat dunia, adat dan apa kata orang. Padahal mereka tak pernah juga peduli pada kita.
Ayah Gadis : hmm.. entahlah, ayah tak tahu. Begitu keras yang anak itu katakan tadi. Dia berpesan tadi, kamu suruh bersiap, lalu setelah dzuhur dia jemput kamu.
Gadis : sudah tidak ada semangat untuk pergi ayah. Kemudian si gadis menggapai telepon
genggamnya dan mengetik pesan.
Si Pemuda yang selesai mengambil wudhu tersenyum saat membaca pesan yang baru saja diterima dari si gadis,

“Andai Allah telah memilih dirimu untukku, aku ridho dan akan terus bersama mu, apapun yang ada pada dirimu dan yang kamu miliki,
aku juga akan terus pada agama yang ada padamu.
Siang ini ga ada mood untuk keluar, maaf. Minggu depan ayah menyuruh kirim rombongan (lamaran) untuk ke rumah.“


***

Terkadang kisah seperti diatas masih saja sering terjadi. Wahai kalian pemuda dan pemudi yang
dirahmati Allah, jika kalian merasa telah mampu dan yakin untuk
menikah. maka segerakanlah. Sungguh- sungguh merugi orang yang menunda-nunda terhadap rahmatnya Allah

copas from
http://www.kaskus.co.id/thread/54d0571e0f8b466b568b4578/izinkan-saya-berzina-dengan-anak-bapak/
Read More..

BAGAIMANA MASA DEPAN KITA . . . ???

Di suatu sore ada seorang anak kecil sedang berjalan-jalan di taman. Di saat sedang asyik-asyiknya menikmati indahnya keasrian rimbunnya pepohonan dan semilirnya angina sepoi-sepoi, langkahnya terhenti karena matanya tertangkap tingkah seorang bapak-bapak yang sedang melamun dengan tatapan mata yang kosong. Hati anak kecil itu pun treusik untuk mencari tahu apa yang membuat bapak tersebut melamun seolah-olah dunia ini sudah tidak punya harapan lagi untuk hidupnya.

“ Apa yang terjadi dengan bapak, sepertinya bapak sangat sedih ?” Tanya anak kecil itu dengan polos.
“ Anak kecil, kamu tidak akan mengerti masalah orang tua seperti saya “Jawab bapak tadi dengan malas-malasan.
“ Tapi saya ingin tahu, bapak ?” Anak kecil tadi mendesak.
“ Baiklah, saya akan beritahu kamu. Bapak sedang menyesali masa lalu. Mengapa dulu bapak tidak berusaha keras untuk saat ini”.

Setelah mendapatkan jawaban, anak kecilpun berlalu dan meneruskan perjalanan sorenya. Namun belum lama berjalan, lagi-lagi jiwanya kembali terusik dengan sikap bapak-bapak yang lain. Kali ini yang dilihat olehnya adalah seorang bapak yang mondar mandir tidak karuan. Anak kecil itu pun menghampiri bapak tersebut dan mencari tahu apa yang sedang menimpanya.
“ Apa yang terjadi dengan bapak, sepertinya bapak sangat gelisah?”
“ Anak kecil, jika kamu nanti sudah sebesar saya, kamu akan mengerti” Jawab bapak itu
“ Tapi saya ingin tahu sekarang, bapak ? “
“ Baiklah, bapak akan memberitahu kamu. Bapak sedang memikirkan masa depan bapak. Bapak takut masa depan bapak suram karena sampai saat ini bapak masih belum punya bekal apa-apa “

Sesudah itu anak kecil tersebut meninggalkan bapak yang sedang mencemaskan masa depannya. Tidak jauh dari situ, anak kecil kembali menemukan seorang bapak-bapak yang sedang sibuk bekerja. Tapi wajahnya terlihat sangat senang, tidak ada kesedihan maupun kegelisahan seperti kedua bapak yang ia jumpai tadi. Kembali pikiran anak kecil itu berkecamuk untuk mendapatkan sebuah jawaban.

“ Mengapa bapak begitu gembira, padahal bapak sedang berkerja keras ? “ Anak kecil tersebut semakin penasaran. Hanya dalam sekejap dirinya menemukan tiga bapak-bapak yang mempunyai sikap yang berbeda-beda.

“ Anakku, ketahuilah bapak tidak sedang bekerja keras tetapi bapak hanya berkerja. Dan yang membuat bapak gembira adalah karena bapak menyukai apa yang bapak kerjakan hari ini “
“ Sebelumnya saya telah menemui seorang bapak-bapak yang sedang menyesali masa lalunya dan seorang lagi sedang mencemaskan masa depannya. Apakah bapak tidak mempunyai masa lalu dan masa depan ? “
Bapak tadi tertawa sejenak kemudian baru menjawab pertanyaan anak kecil yang memiliki rasa keingintahuan yang luar biasa.

“ Anakku, Detik Ini Akan Menjadi Masa Lalu Bagi Detik Berikutnya, Dan Detik Berikutnya Adalah Masa Depan Detik Ini. Maka Jalani Detik Ini Dengan Sebaik-Baiknya “.

Hari pun mulai malam dan anak kecil itu pun kembali keperindukan dengan segudang falsafah hidup yang ia dapatkan hari ini.

“ MENYESALI MASA LALU ADALAH KESEDIHAN, MENCEMASKAN MASA DEPAN ADALAH KEGELISAHAN BERBUAT YANG TERBAIK UNTUK SAAT INI ADALAH KEGEMBIRAAN “

Sahabat….Apa yang telah terjadi tidak mungkin bisa dirubah, karena waktu tidak pernah bisa berkompromi dengan manusia. Seperti kata pepatah “ Dengan waktu sedetik kita bisa membeli batangan emas, namun batangan emas tidak akan bisa untuk membeli waktu sedetik “. Untuk itu sahabatku janganlah pernah menyesali masa lalu, kita harus mengerti bahwa hidup dalam bayangan masa lalu adalah sia-sia.

Demikian juga kita tidak perlu mencemaskan masa depan. Orang-orang yang mencemaskan masa depan adalah orang-orang yang tidak mempunyai rasa percaya diri. Yang akhirnya, tidak jarang membuat mereka mencari tahu masa depannya dengan mengunjungi para tukang ramal. Apabila si tukang ramal mengatakan masa depannya baik membuat mereka siang malam menunggu datangnya hari keberuntungan itu tanpa mau berusaha dengan maksimal. Sebaliknya, apabila kata si tukang ramal bahwa nasib telah menggariskan masa depannya tidak cerah alias tidak punya masa depan maka mereka pun tak segan-segan mengeluarkan uang yang banyak untuk mengubah masa depan buruk menjadi baik dengan berbagai ritual yang harus dilakukan. Dan ini sering dijadikan oleh tukang ramal untuk mendapatkan banyak uang dengan menjual atas nama ilmu merubah nasib yang ia miliki. Ingatlah, sahabatku masa depan bukanlah nasib yang telah digariskan kepada setiap manusia apalagi ada ditangan tukang ramal.

Ada satu pepatah lagi yang kurang lebih berbunyi :
“ Walaupun nasib kita digariskan sebagai raja kalau kita tidak berusaha selamanya tetap tidak akan bisa menjadi raja. Sebaliknya walaupun nasib kita digariskan sebagai pengemis jika kita bekerja keras pasti tidak akan jadi pengemis “

JADI BAGAIMANA IDEALNYA KITA MENJALANI HIDUP ?

Jangan memikirkan masa lalu dan jangan mencemaskan masa depan. Sekali lagi kita tidak bisa kembali ke masa lampau untuk membatalkan apa yang telah terjadi dan kita juga tidak bisa menghindari apa yang akan terjadi dikemudian hari. “ Saat ini, Sekarang ini “ adalah kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Berusahalah kita sebaik-baiknya untuk saat ini dan jangan pernah mengabaikannya. Setiap detik yang terlewati selalu menyimpan berbagai peluang. Jika kita tidak memanfaatkannya maka harapan kesuksesan akan meninggalkan kita dengan airmata kegagalan.

Kekuatan untuk membangun kesuksesan ada pada saat ini, bukan pada saat berikutnya atau saat sebelumnya. Kebahagiaan hidup ada pada mengerjakan apa yang dapat kita kerjakan saat ini. Bukan mengerjakan apa yang dapat kita kerjakan pada saat sebelumnya atau sesudahnya. Dan kesuksesan hidup terletak pada apa yang kita lakukan sesuai dengan keinginan hati. Seberapapun kerasnya kita bekerja jika kita kerjakan dengan hati yang senang akan terasa ringan. Demikian juga sebaliknya, seringan apapun pekerjaan yang kita lakukan bila tidak sesuai dengan keinginan hati akan terasa berat.

” Masa Lalu adalah Lukisan Yang Telah Kusam, sedangkan Masa depan adalah Lukisan Yang Abstrak dan SAAT ini adalah Lukisan Yang Paling NYATA ”.

sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..

TAK ADA KEBAJIKAN YANG TAK KEMBALI



Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.

Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah sedang kelaparan, oleh karena itu ia membawakan segelas air susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “Berapa saya harus membayar untuk segelas air susu ini?”
Wanita itu menjawab, “Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan”, kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata, “ aku berterima kasih pada ibu, dan akan kusimpan terima kasihku ini sepanjang hidupku.”

Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Horward Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.

Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali keruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.. ..Wanita itu sembuh!!

Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa Ia tak akan mampu menbayar tagihan tesebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi..”Telah dibayar lunas dengan segelas air susu!!” tertanda, Dr Horward Kelly.

Air mata kebahagian membanjiri matanya. Ia berdoa: “Ya Allah….Engkau Maha Pengasih, terima kasih, bahwa cintaMU telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.”
------------

“Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain”. (HR. Ahmad)

Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya sedekah dengan sebutir kurma. (Mutafaq’alaih)

Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah. (HR. Al-Baihaqi)

Kadang kita terlalu mamaksakan diri menyuruh Allah SWT memberikan balasan atas segala kebajikan dan sedekah yang telah kita lakukan, ketahuilah bahwa Allah PASTI membalas tanpa kita menagihnya, kadang Allah menunggu momentum yang tepat untuk memberikan KEJUTAN ketika kita sudah tak berdaya lagi menghadapi sesuatu, so… jangan pernah berhenti berbuat kebajikan dan sedekah walau itu KECIL, karena itu adalah INVESTASI kita untuk bangkit dari keterpurukan dan ketidakberdayaan ketika menerpa kita

Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..

RUMAH MIRING


Saat itu saya baru saja berbicara di hadapan sekelompok kaum ibu mengenai kebesaran Allah SWT dan bagaimana Allah SWT menjawab setiap doa hamba-Nya. Dengan mengutip satu Ayat : “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS Nuh : 13) , Acara sudah usai dan saya tengah istirahat sejenak sambil menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah.

Tiba-tiba, Seorang ibu yang mengaku benama Dessy datang menghampiri saya usai sebuah pertemuan. “Boleh berbicara sebentar, Pak?!” tanyanya. “Silakan bu “, jawab saya.


Bu Dessy menyampaikan pengalamannya saat saya masih terus mengunyah makanan, Begitu antusias Ia menuturkan hingga saya pun mulai pasang telinga.
Ia mengabarkan bahwa ia bersyukur memiliki seorang suami yang amat shalih. Keshalihan suami itulah yang membuat Dessy mengambil keputusan menikah dengannya, meskipun awalnya Dessy adalah seorang non-muslimah.

Namun setelah beberapa tahun menikah dan dikaruniai dua orang anak, Dessy mendapati bahwa ia merasa tidak cocok dengan agama Islam, bahkan belakangan ia kembali kepada agama semula. “Saya terus mencoba untuk membuat anak-anak ikut ke agama saya namun rupanya mereka lebih sayang kepada ayah mereka...” tutur Dessy. Ia melanjutkan, bahkan saking kuatnya pengaruh ketaatan beragama suaminya, anak-anak tumbuh menjadi keturunan yang shalih dan kuat berakidah.


Hingga Dessy menuturkan pengalaman dialognya dengan seorang anaknya yang berumur 4 tahun saat itu dan membuat jalan hidup Dessy kembali berubah.
“Kami saat itu sedang asyik bermain ayunan di taman. Kami tertawa riang dan bercanda, saat kami kelelahan bermain dan beristirahat sambil duduk di taman aku berkata kepada anakku, ‘Nak..., enak sekali ya bermain di taman seperti ini!’ Sang anak pun menjawab, ‘Ya Ma, asyik sekali... Tapi sayang ya kita cuma bisa bermain bersama di sini, tidak di surga nanti“, jawab anak saya.
“Memangnya mengapa kita tidak bisa main seperti ini di surga nanti?!” tanya Dessy keheranan. Anaknya yang tersayang itu menjawab, “Kita kan semua muslim, sementara mama bukan hamba Allah yang muslimah. Sedang surga hanya Allah berikan kepada hamba yang taat kepada-Nya....”

DEGGG....! Hati Dessy tersentak. Ia tidak menyangka bahwa anaknya mampu berpikir sedemikian jauh. Hati Dessy menjadi galau. Matanya kini berkaca-kaca membayangkan bahwa ia tidak bisa berjumpa lagi dengan anaknya di surga nanti.
Namun sejurus kemudian ia malah berpikiran buruk terhadap suaminya. “ini pasti ulah suamiku!” batin Dessy. Ia menyangka bahwa suaminya pasti telah mendoktrin anaknya sedemikian rupa.

Sore itu sepulang suaminya dari tempat bekerja, Dessy menyerangnya habis-habisan. Anehnya meski Dessy berteriak -teriak dengan suara melengking, sang suami malah terlihat begitu tenang dan selalu tersenyum. Begitu Dessy mereda sang suami memberinya penjelasan dan menyadarkan Dessy untuk kembali ke jalan Allah Swt. Alhamdulillah hati Dessy luluh. Hidayah Allah SWT kembali lagi menyapanya.

Dessy berniat untuk kembali menjadi muslimah dengan satu syarat bahwa sang suami harus mencarikan seorang guru yang tepat untuk Dessy agar ia yakin dan mantap memeluk agama Islam. Suami Dessy menerima syarat itu lalu ia mengajak Dessy untuk melakukan shalat Isya berjamaah, kini Dessy kembali menyembah Allah SWT setelah sekian lama ia meninggalkanNya.

Shalat Isya di malam itu begitu sejuk terasa dalam batin Dessy dan suaminya. Sang suami bersyukur kepada Allah SWT sambil menitikkan air mata bahagia, sedang Dessy menengadahkan wajah dan kedua tangannya sambil memanjatkan doa dengan suara yang terpendam dalam dada.

Dessy sampaikan kepada Allah, Tuhannya :

“Ya Allah.. .., hingga kini aku belum merasakan keagungan dan kehebatanMu...
Andai betul Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Kuasa, mohon kiranya Engkau membuat rumah ini laku terjual !”

Demikianlah doa yang dipanjatkan Dessy malam itu kepada Allah SWT. Sebuah doa dari hamba yang lemah yang ingin menguji kekuasaan dan keperkasaan Allah SWT.

Saya terperanjat mendengar tutur doa yang pernah Dessy panjatkan. Saya bertanya kepada Dessy apakah rumah itu kemudian laku terjual? Maka Dessy pun melanjutkan kisahnya


Sudah 7 bulan yang lalu rumah yang ia diami saat itu pernah diiklankan untuk dijual. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan lebih, Dessy dan suaminya memasarkan rumah mereka di berbagai media. Namun sayang tidak ada satu pun respon positif dari iklan yang dipasang. “Jangankan melihat lokasi, telepon masuk pun yang menanyakan rumah tidak ada” jelas Dessy singkat.

“Kami pun menyadari bahwa memang rumah kami sulit untuk dijual, Sebab lokasi rumah itu di lingkungan warga keturunan yang masih begitu percaya hoki dan feng shui. Ditambah lagi bentuk tanah rumah kami miring. Apalagi nomor rumah kami adalah 4 (empat) yang berarti mati dan membawa sial. Kami sudah putus asa menjual rumah itu, hingga kami berhenti beriklan” jelas Dessy.

Saat suami Dessy meyakinkannya untuk kembali memeluk Islam dan bercerita akan keagungan Allah. Maka Dessy pun ingin menguji kebenaran dan kuasa Allah SWT itu. Sebab itu Dessy berdoa dengan redaksi di atas. Sebuah doa yang menantang kekuasaan Allah Ta’ala.

“Terus bagaimana kelanjutan kisahnya, bu....?” tanya saya tak sabar. Maka Dessy pun melanjutkan kisahnya:


Seperti rutinitas harian yang Dessy kerjakan maka pagi itu ia berangkat ke toko miliknya. Sepanjang hari Dessy menanti ijabah dari Allah SWT atas doa yang ia panjatkan. Namun hingga sore hari masih belum ada pertanda akan datangnya ijabah doa itu. Ba’da Ashar suami Dessy datang menjemput, Saat baru saja tiba Dessy langsung bertanya penuh harap kepadanya, “Apakah ada orang yang datang menanyakan rumah, Pa?!” Sang suami malah balik bertanya, “Memangnya Mama pasang iklan kemarin?!” Dessy menjawab, “Tidak!” “Ngawur kamu, Ma.
Masak tidak pasang iklan terus berharap ada orang yang datang menanyakan rumah!!!” Dessy tidak membalas kalimat terakhir dari mulut suaminya, namun ia membatin, “Ya Allah, rupanya Engkau tidak berkuasa seperti yang aku harapkan!”

Tak lama setelah itu Dessy dan suaminya kembali pulang ke rumah. Saat itu kira-kira pukul setengah lima sore. Dessy dan suaminya baru tiba di rumah. Mereka tengah berada di kamar dan baru saja berganti pakaian. Mereka saling bertukar cerita dan pengalaman yang mereka lalui hari itu. Dalam perbincangan mereka di kamar saat itu, tiba-tiba mereka berdua mendengar ada suara seorang perempuan asing mengucapkan salam di luar rumah.

Dessy mengintip lewat jendela. Di sana ada seorang wanita berjilbab panjang dengan warna buram. Sekilas Dessy menyangka bahwa perempuan itu pasti datang untuk meminta sumbangan. Dessy keluar dari kamar dan ia berpesan kepada pembantunya untuk memberi infak bila perempuan di luar sana meminta sumbangan. Usai berpesan Dessy pun kembali ke dalam kamar.


Pintu kamar kemudian diketuk oleh sang pembantu dan Dessy pun keluar. “Bu..., perempuan di luar tadi katanya datang mau melihat rumah” jelas sang pembantu. Deggg....! sontak Dessy terperanjat. Tak percaya akan berita yang didengarnya, maka Dessy bergegas untuk membukakan pintu bagi tamunya. “Wajah tamu itu begitu sumringah.. ..“ papar Dessy. “Setiap kali ditunjukkan sebuah bagian ruang dan rumah kami, ia selalu bertasbih menyebut nama Allah dan kegirangan” imbuhnya lagi. Ia menyatakan tertarik dengan rumah Dessy dan menanyakan berapa harga yang diminta. Di luar dugaan Dessy sang tamu tidak hanya setuju dengan harga yang disebutkan, bahkan wanita itu mengajaknya untuk pergi ke notaris keesokan paginya untuk transaksi jual-beli rumah.
SUBHANALLAH....!

Dessy kegirangan sore itu dan malam harinya ia bermunajat kepada Allah untuk menyampaikan rasa syukurnya atas ijabah doa yang Allah Swt berikan.

Esok paginya ia datang ke notaris bersama suami dan ibu calon pembeli rumah. Akte jual-beli rumah sudah diselesaikan dan proses akad tersebut begitu mudah dan cepat. Wajah Dessy begitu sumringah, dan dalam obrolan di kantor notaris itu Dessy sempat bertanya kepada ibu yang membeli rumahnya, “Bu..., apa yang membuat ibu tertarik dengan rumah kami dan darimana ibu mencari infonya?”

Sang ibu pembeli rumah menjawab, “Saya memang sudah lama mencari rumah di daerah Kelapa Gading, Jakarta. Namun belum ketemu jodohnya barangkali. Dua malam yang lalu sehabis shalat Isya saya merasa kegerahan di dalam rumah. Sambil ngobrol dengan suami di teras rumah, maka saya ambil setumpuk koran lama di meja yang ada di teras untuk kipasan. Lagi asyik ngobrol eh... tiba-tiba saya melihat ada sebuah iklan baris yang menjual rumah di daerah Kelapa Gading. Melihat ukuran rumah dan harganya kok sepertinya cocok hetul dengan rumah yang saya cari. Maka keesokan harinya saya baru datang ke rumah bapak-ibu.”


Mendapati penjelasan sang ibu pembeli, Dessy menjadi terkesima dan melongo. Ia seolah tak percaya akan apa yang didengarnya. Sekali lagi Dessy menegaskan, “Dua malam yang lalu ibu membaca iklan baris itu?! Koran itu terbitan tanggal berapa dan pukul berapa ibu berada di teras rumah sambil kipas-kipasan?!”
“ya, dua malam yang lalu, Gak tahu ya bu tanggal berapa koran tersebut tapi rasanya mungkin 7 bulan lalu itu koran. Sementara kalau waktu saya ngobrol dengan suami di beranda rumah saat itu mungkin kira-kira pukul 7 malam mungkin ya. . .“ jawab sang ibu pembeli ringan.

“ALLAHU AKBAR....!” Dessy memekik. Ia terdiam sejenak dan tak sanggup berkata apa-apa. Beberapa bulir air mata kini menitik di pipinya. Sang suami dan ibu pembeli rumah bertanya apa gerangan yang terjadi, Lama Dessy terdiam, Tak sanggup ia mengangkat wajah, Setelah agak tenang Dessy menjelaskan bahwa dua malam yang lalu ia shalat Isya bersama suami setelah sekian lama ia murtaddah (non Muslim) . ia ceritakan kepada semua yang hadir di ruangan notaris itu bahwa malam itu Ia berdoa dengan redaksi menantang kekuasaan Allah SWT. Sungguh diluar jangkauan pikiran Dessy bahwa kalimat-kalimat doa itu rupanya naik menggetarkan ‘Arsy Allah SWT, dan pada saat yang sama Allah Swt menjawab doanya dengan memberikan pantulan sinar pada tumpukan koran lama yang ada di beranda rumah ibu pembeli, ibu pembeli rumah itu lalu merasa kegerahan dan Allah SWT menggerakkan tangannya untuk mengambil koran lama untuk dibuat kipas, Maka iklan rumah yang sudah berbulan-bulan itu akhirnya menemui calon pembelinya. SUBHANALLAH!

Dalam ruangan notaris itu Dessy berikrar bahwa kini ia tidak ragu lagi terhadap Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa. Sungguh, keagungan Allah SWT amat menakjubkan. Apakah kita pernah merasakannya?!


Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..

HANDUK KUMAL


Pagi itu Yudi, bukan nama asli - sedang menyantap sarapan pagi bersama istri dan dua orang anaknya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.20 WIB. Mereka bergegas menyantap sarapan yang telah tersedia . Itulah kebiasaan Yudi sekeluarga setiap hari. Mereka harus meninggalkan rumah setengah enam pagi kalau tidak ingin terlambat dalam aktivitas keseharian.

Namun dalam ketergesaan di pagi buta itu, terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Istri Yudi segera berjalan ke arah pintu depan. Di sana rupanya ada seorang ibu tetangga rumah beserta anaknya yang datang dengan sebuah bungkusan.

“Ada apa, ibu?” tanya istri Yudi.
“Boleh saya bertemu dengan pak Yudi ?” tanya sang tamu.

Perempuan itu dipersilakan masuk. ia menunggu di ruang tamu, sementara Yudi menyelesaikan sarapan. Usai itu, Yudi datang menyapa. ia menanyakan ada apa gerangan. Di sisinya sang istri turut mendengarkan.

Ibu sang tamu kemudian berkata lirih, “Pak Yudi, tolong beli handuk ini!”

Yudi dan istri saling bertatapan heran. Setahu mereka sang tetangga ini tidak pernah berjualan. “Sejak kapan sang ibu ini berjualan handuk?” Batin mereka berdua.


Namun mereka berdua merasa aneh, saat mereka membuka bingkisan yang disodorkan tiada lain adalah sebuah handuk kumal yang bukan baru melainkan handuk yang sudah terpakai. Yudi dan istri terheran. Mereka tidak mengerti apa maksud sang ibu menawarkan handuk kumal itu .

Setelah beberapa saat, Yudi pun mendapatkan sebuah pertanyaan untuk dilontarkan.

“Kenapa ibu mau jual handuk ini?” Tanya Yudi.
“Suami saya sudah beberapa hari gak pulang, Pak! Saya gak tahu apakah dia kabur karena kawin lagi atau sudah meninggal di jalan. Biasanya kalau lagi bawa truk ke Jawa, 1 minggu paling lama dia sudah pulang. Sampai sekarang sudah dua minggu lebih gak ada kabar. Gak ada telepon, SMS atau apa pun. Padahal di rumah saya gak punya uang dan makanan, Sudah dua hari saya bilang ke anak-anak untuk sabar menahan lapar. Tapi tadi malam saya sudah gak kuat mendengar jerit anak-anak saya kelaparan. Tolong beli handuk ini, Pak! Saya gak mau mengemis, saya juga gak berani ngutang. Tolong ya Pak!” Ibu tadi menutup kalimatnya dengan nada memelas.

Yudi dan istri merasa lemas mendengarnya. Keduanya menghela nafas panjang. Bergegas Yudi dan istri masuk ke kamar. Mereka tidak kuat mendengar keluhan tetangganya tadi. Namun, celakanya uang yang mereka punya hanya Rp. 200 ribu saja. “Berapa yang pantas untuk diberikan?” gumam mereka berdua.

Akhirnya Yudi memutuskan untuk memberi uang sejumlah Rp. 150 ribu. Padahal sebelumnya sang istri mengingatkan bahwa tanggal gajian masih seminggu lagi. Dari mana uang untuk makan dalam beberapa hari tersebut? Yudi menjawab singkat, “Allah pasti menolong kita!” . Akhirnya Yudi memberikan sejumlah uang tersebut kepada tetangganya.

Setelah ibu itu berpamitan, Yudi dan seluruh anggota keluarga pergi meninggalkan rumah. Rute yang dilalui adalah mengantarkan anak-anak ke sekolah, lalu ke tempat kerja istri dan terakhir menuju kantor.

Yudi dan istri sangat menikmati perjalanan rutin di pagi itu, Namun ada satu rasa di dalam hati mereka yang tengah bersemi, KEBAHAGIAAN DAN KEDAMAIAN yang lain dari hari-hari sebelumnya.

Energi kebaikan itu dirasakan oleh Yudi sepanjang hari. Senyurn terus terkembang di wajahnya. Semua orang yang ia jumpai selalu menyapanya, Alangkah berkah hari itu Yudi rasakan.

Pukul 16.00 WIB hari itu usai shalat Ashar, Direktur SDM di kantornya memanggil Yudi datang ke ruangan. Tak terlintas di benak Yudi, ada apa gerangan? . Yudi mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk. Setelah duduk di sebuah kursi di ruang itu, Yudi bertanya ada apa gerangan ia dipanggil.

Wajah sang direktur terlihat ceria. Beberapa kali senyuman tertilas di wajahnya. Yudi membatin , ini mungkin satu lagi penambah keberkahan untukku hari ini.

Setelah berbincang beberapa lama, sang direktur memberitahukan bahwa tahun ini seperti masa-masa sebelumnya perusahaan memberangkatkan 1 orang dari pegawai untuk berangkat ibadah haji. Direktur SDM itu memberitahukan bahwa pegawai yang beruntung tahun ini adalah YUDI !!!

Allahu Akbar, Tubuh Yudi berguncang hebat, Tak mampu menahan gemuruh dalam ruang batinnya, Ia pun bersyukur kepada Allah dan tersungkur sujud. Ia tidak hanya menjabat tangan sang direktur, saking girangnya ia memeluk erat tubuh sang direkiur dan ia ucapkan terima kasih berulang kali.

Yudi kembali ke rumah dengan hati berbunga. Rasanya kali ini adalah perjalanan pulang ke rumah yang paling indah yang ia alami. Sambil memegang kemudi mobil, berkali-kali air mata menetes di pipi Yudi. “Alangkah Maha Pemurahnya Allah SWT !” Hatinya memuji.

Yudi pun tiba di rumah. Setelah mobil diparkir, ia langsung berhambur mencari istrinya. Istrinya terheran-heran melihat gelagat suaminya, kemudian ia pun menanyakan Yudi ,apa yang terjadi?, Yudi lalu menceritakan kabar gembira bahwa dirinya akan berangkat haji tahun ini.

Setelah keduanya merasakan kegembiraan itu, keduanya pun meengerti bahwa Allah SWT. memberikan anugerah yang amat berharga itu setelah Yudi dan istri memberikan bantuan kepada seorang ibu tetangganya tadi pagi !

Betapa pertolongan Allah amat cepat mendahului bantuan yang diberikan seorang hamba untuk saudaranya!
Subhaanallah, memang Sedekah adalah GAYA HIDUP yang membuat hidup kita ini semakin berkah dan bermakna.

“ Sedekah akan jatuh di tangan Allah, sebelum sedekah itu di terima oleh tangan peminta” . ( Al-Hadits )



Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..

KESETIAAN YANG TERLUKAI


Ia adalah seorang wanita yang saya kenali sangat sabar menghadapi suaminya. Suaminya sangat keras kepadanya, namun ia tak pernah membangkang dan selalu menaatinya. Ia tak pernah mengeluhkan takdir Tuhannya terhadapnya. Ia tetap bersabar dan mengharapkan balasan dariNya. Ia selalu melihat anak-anaknya, seakan semua kesabarannya karena Allah adalah untuk mereka.

Lebih dari itu semua, Allah mengujinya dengan sebuah penyakit keras di perutnya. Ia seringkali kesakitan karena penyakit itu, atau kesakitan karena kezhaliman sang suaminya berkali-kali.

Begitulah selalu. Hingga akhirnya ia menghadapi sakaratul mautnya. Pada saat itu, salah seorang putrinya membacakan ayat-ayat Kitabullah kepadanya dan ternyata ia justru mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk menjaga ayah mereka.

Ya Allah, suami itu selama ini berlaku buruk padanya, namun ia justru bersikap baik kepadanya. Sang suami menzhaliminya, namun ia justru mendoakannya. Ia justru mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk bersikap baik kepada ayah mereka.

Setelah itu, ia meminta mereka untuk keluar dari kamarnya. Kemudian pandangan matanya mengarah ke langit sembari ia berbaring di pembaringannya. Kemudian ia mengisyaratkan dengan telunjuknya untuk menunjukkan ungkapan tauhidnya kepada Tuhannya. Dan tidak lama kemudian, keringat dingin mulai mengalir di keningnya, dan ia pun menyerahkan ruhnya kepada Sang Penciptanya. Semoga Allah merahmatinya.

Aku menghayati betul kisah ini sendiri. Wanita itu meninggal dengan memberi wasiat kebaikan untuk orang yang selama ini bersikap sangat jahat kepadanya. Dan karena itu, sang suami mendapatkan hidayah dari Allah sepeninggalnya, seumur hidupnya sang suami tidak mampu melupakan semua kebaikan dan kesabaran istrinya, Ia terus mengingat sang istri dan mendoakan dalam setiap ibadahnya.

Wanita penyabar itu meninggal dunia dan keringatnya mengalir di atas keningnya. Itu salah satu tanda akan adanya syafa’at dari Nabi SAW. Ia juga meninggal akibat penyakit di perutnya, sehingga ia seperti yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad:  “Barang siapa meninggal akibat penyakit perutnya, maka ia mati syahid”

Dan juga sabdanya Beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Nasa’i dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani-: “Barang siapa terbunuh perutnya, maka ia tidak akan disiksa di Alam Penantiannya.”

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang BERSABAR lah Yang dicukupkan PAHALA TANPA BATAS untuk mereka.” (QS. Az-Zumar: 10)

“Dan bersabarlah! Sesungguhnya ALLAH MENYERTAI orang-orang yang SABAR ” (QS. Al-Anfal:46)
“Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran 3:146)

“Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 2:155)

“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An-Nahl 16:96)

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudhoratan kepada kamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran 3:120)


Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis

Read More..

ANJING KURAP, KAPAL PESIAR, PILIH MANA ?

Sebagai pengusaha minyak di Texas, Amerika Serikat, harusnya pria itu sudah merasakan hidup yang sempurna. Jika kita berbicara dengannya, dia pasti memain-mainkan jarinya pada kancing emas di lengan jas berbahan kasmir yang dikenakannya. Obrolannya berkisar tentang dua mainannya, yaitu pesawat dan kapal, yang sudah tentu bukan kapal-kapalan, melainkan kapal pesiar dengan panjang 52 kaki. Bukan pula pesawat plastik tetapi pesawat turboprop berpenumpang delapan orang. Begitulah mainan orang yang sangat-sangat kaya itu !

Namun, nafsu untuk terus memiliki barang-barang mewah tidak pernah berhenti. Pengusaha itu bekerja lebih keras lagi guna memburu kekayaan materi lainnya, Sungguh aneh, setiap kali mendapatkan barang mewah baru, dia hanya merasakan kesenangan sesaat, kemudian gelisah kembali. Ada hasrat ingin mendapatkan benda-benda lainnya karena dia diliputi ketakutan, takut tidak berkecukupan.

Dia merasa tidak puas dan ingin terus mengoleksi intan permata, emas perak, pesawat canggih, kapal mewah, istana megah yang memberinya kesenangan sesaat. Akibat stres memburu kekayaan materi itu, rumah tangganya berantakan, istrinya minta cerai, dan anaknya tak jelas nasibnya. Kondisi porak-poranda itu membuatnya semakin tertekan dan nyaris gila.

Syukurlah dia menyadari bahwa jiwanya tertekan dan mengambil keputusan yang tepat dengan menemui seorang psikiater. “Tolonglah, aku hampir gila, Aku tak kunjung bahagia, Uang banyak dan bisnis sukses justru semakin membuat hidupku tidak tenteram,” keluhnya.

Begitulah nasib orang yang terkenal karena kekayaannya itu. Dia tidak pernah puas dengan harta benda yang sudah dimilikinya, terlebih orang-orang selalu menilainya dengan standar materi.
Psikiater yang sudah sering mendapatkan masalah serupa itu berkomentar, “ Uang hanya mengikatmu dan tidak akan memberimu kebahagiaan.”

Kesenangan itu bersifat temporer, nikmatnya sementara saja lalu bisa berganti menjadi racun diri, Sedangkan kebahagiaan itu abadi, berlangsung selamanya, tidak pernah meracuni diri, melainkan membawa ketenteraman.
Lalu si psikiater memberikan obatnya, “Untuk mengembalikan kebahagiaanmu, lakukanlah pekerjaan yang tidak akan membuatmu kaya dan tidak pula membuatmu terkenal !”

Setelah dipikir-pikir, pengusaha minyak itu menemukan pekerjaan yang tidak mungkin membuatnya kaya dan tidak pula terkenal, yaitu merawat anjing-anjing kurap yang telantar di jalanan. Hanya semangat ingin merasakan kebahagiaan sejati yang membuatnya kuat mengerjakan hal yang sangat merepotkan itu.

Maka pria itu mulai memunguti anjing-anjing kurap di jalanan, membersihkan dan memandikannya, memberikan obat dan merawat dengan baik. Setelah anjing itu sembuh, pria itu berusaha keras mencarikan orang yang bersedia merawatnya. Betul-betul pekerjaan yang tidak mudah!

Semula, hampir saja pria itu menyerah. Dia tidak mempermasalahkan uang yang dihabiskan untuk merawat anjing-anjing itu. Tetapi merawat anjing kurap sungguh pekerjaan yang membutuhkan KESABARAN.Hampir saja dia berhenti, namun nasihat si psikiater membuatnya bertahan dan terus merawat anjing-anjing tak bertuan itu.

Usahanya untuk BERSABAR itu tak sia-sia, Lambat laun muncul perubahan pada dirinya, pria itu menjadi lebih penyayang, perhatian, memiliki cinta kasih, dan yang paling mengagumkan untuk pertama kali dia merasa sangat bahagia. Dia dapat tersenyum lepas tanpa merasa tertekan. Teman-temannya yang dulu menjauh mulai mendekat dan akrab, anak dan istrinya pun kembali ke pelukannya.

Pengusaha minyak itu mendapatkan hikmah bahwa mengasihi makhluk Allah, baik itu hewan, tumbuhan, apalagi manusia dengan penuh KESABARAN itu akan mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan hidup. Kini dia tidak lagi mementingkan kekayaan materi yang justru merenggut kebahagiaan sejatinya.

Sahabat, Kebahagiaan itu diperoleh dengan mengejar yang hakiki, bukan memburu yang fana. Kebahagiaan lebih mudah diperoleh melalui kepuasan batin, bukan kepuasan indrawi. Kebahagiaan dapat mengumpulkan kembali segala keindahan hidup yang pernah hilang, satu lagi KEBAHAGIAAN akan mudah kita peroleh ketika kita mampu mempertahankan KESABARAN.

“ Sungguh BERBAHAGIALAH orang yang sabar dan mau memaafkan, karena perbuatan semacam itu termasuk perbuatan-perbuatan yang sangat utama.” (QS. As Syura:43)

“Mohon pertolonganlah kamu sekalian dengan sabar dan mengerjakan shalat. Sesungguhnya ALLAH SELALU MENYERTAI orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah:153)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang mampu BERSABAR lah yang dicukupkan PAHALA nya TANPA BATAS.” (QS. Az Zumar:10)

Ya, ternyata KAYA itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting yaitu kita MAMPU BERBAGI dan PEDULI, walau kita belum kaya………

Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis

Read More..

CANGKUL PAK TANI

Alangkah geramnya Pak Tani mendapati cangkul miliknya raib dari gudang, padahal pagi itu dia akan pergi ke sawah, karena sudah tiba waktunya bertanam.

“Tak diragukan lagi, pasti Pak Beruk yang mencuri cangkulku! Dia memang iri pada kita,” ungkap Pak Tani berapi-api pada istrinya. Tak sanggup menahan kekecewaan, Pak Tani mulai pasang muka masam pada tetangganya itu.

Pak Beruk pun jadi salah tingkah. Dia mencoba menyapa, tapi Pak Tani berpaling muka. Tidak ada sapaan balasan yang menyenangkan hati. “Sapaannya itu bertujuan mengejek. Saya tahu itu,” ujar Pak Tani.

Setelah setiap salamnya tak dipedulikan pak Tani, Pak Beruk mulai memberikan senyuman, Tapi Pak Tani malah melengos saja. “Dia sengaja mencibir saya yang tak bisa lagi ke sawah,” alasan Pak Tani.

Tak tahu lagi harus bagaimana, Pak Beruk memilih diam saja. Dia pikir Pak Tani butuh waktu menenangkan diri. Jadi, mendiamkan mungkin pilihan terbaik.

Namun, malah diartikan lain oleh Pak Tani , “Tuh, dia diam-diam saja. Itu pertanda benar dia pelakunya. Tak salah lagi! orang jahat memang  jadi serbasalah.”

Kalap karena ditelan badai prasangka, Pak Tani melakukan tindakan ceroboh. Diam-diam dia meracuni beruk (monyet pemanjat kelapa) milik pak Beruk tetangganya itu.

Pagi harinya, dari rumah sebelah terdengar teriakan histeris dan tangisan keras. Pak Beruk sekeluarga bertangisan melihat beruk andalan mereka untuk mencari nafkah telah terbujur kaku. Padahal Pak Beruk tak punya sawah ladang atau keterampilan selain memetik kelapa dengan bantuan si Beruk monyet kesayangannya,  masa depan keluarganya tengah terancam.

Sementara itu, Pak Tani malah terhibur dan tersenyum, “Syukurin! Rasain sakitnya dianiaya tetangga!” Sambil terkekeh kekeh dia mulai merapikan tumpukan jerami di samping rumahnya.

Tapi... Aduh! Ternyata dia justru mendapatkan cangkulnya di sana.

--------------------

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka, (karena) sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”(QS. al-Hujurat:12)

Dikisahkan ketika Rosulullah SAW  tengah berbincang dengan beberapa sahabat, tiba-tiba melintas seekor anjing hitam penuh kadas dengan kaki pincang berjalan terseok-seok, matanyapun hanya sebelah tertuju pada sebongkah sampah,

tak lama Rosul bertanya "wahai sahabatku apa yang terlintas dibenak kalian setelah melihat anjing itu..?"

para sahabat masing masing berkomentar dengan presepsi  berbeda,.."ya Rosul kami melihat tidak ada kebaikan pada anjing itu,..matanya cuma satu"..."makananannya kotor dari sisa-sisa pembuangan".."bulunya  hitam penuh kadas tiada pesona"...salah satu shabat berkata "jalannya pincang ya...Rosul"...

kemudian Rosul bertanya kembali.."adakah kebaikan pada anjing itu..?"...para sahabat menjawab "hanya Rosul dan Allah yang tahu.."..lalu Rosul berkata lagi.."aku melihat gigi anjing itu putih bersih, dan anjing   adalah hewan penjaga yang baik, dalam beberapa rumah yang lainnya anjing memiliki sifat taat terhadap majikannya".

Ya, buruk dalam pandangan kita tapi belum tentu buruk juga bagi orang lain, selalu ada kebaikan dibalik keburukan jika kita melihatnya dengan hati yang jernih.

Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..

Kisah Hikmah Shalawat Dan Nenek Tua dari Madura

Alkisah di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid.

Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.

Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat, pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya, kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhir tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur. Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.


Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..

SATU UNTUK SEPULUH


Alkisah, dahulu ada seorang pedagang miskin yang sedang kesulitan mendapatkan makan untuk keluarganya karena barang dagangannya hari itu tidak satupun ada yang laku…………

Ketiga anak Abu Zuhdi menangis karena menahan lapar. Mereka ingin sekali makan. Namun, Abu Zuhdi hanya memiliki uang satu dirham dan itu tidak akan membuat semua anaknya kenyang.
   “Ayah, kami benar-benar lapar,” kata anak-anaknya sambil memegang perut.
       “Hari ini dagangan Ayah tidak laku dan Ayah hanya memiliki uang satu dirham. Ini tidak cukup untuk kalian bertiga,” kata Abu Zuhdi dengan sedih. 
                “Ayah, maafkan kami. Tapi satu dirham cukup untuk membeli sekerat roti. Kami akan membaginya secara adil. Biarlah Allah yang akan mengenyangkan kami,” kata anak tertua Abu Zuhdi.

                Abu Zuhdi kemudian pergi ke pasar dan membeli sekerat roti. Beliau pun langsung membawanya pulang. Dalam perjalanan, Abu Zuhdi melihat seorang pengemis sedang duduk gemetar. Pengemis itu terlihat sangat lapar.
                “Apa yang terjadi denganmu? Mengapa tubuhmu bergetar?” tanya Abu Zuhdi.
                “Wahai Tuan, aku gemetar karena tubuhku tidak mampu menahan lapar,” jawab pengemis.
                Abu Zuhdi bertanya, “Memangnya sudah berapa lama kau tidak makan?”
                “Sudah tiga hari aku tidak makan,” jawab pengemis dengan gemetar.

                Abu Zuhdi lalu membayangkan anak-anaknya yang menangis karena lapar. Namun, mereka lapar karena belum makan hari ini, sedangkan pengemis itu sudah tiga hari. Ada kemungkinan pengemis itu tidak akan bertahan hidup jika tidak mendapatkan makanan hari ini.
                “Ambillah sekerat roti ini. Semoga bisa mengenyangkanmu,” kata Abu Zuhdi sambil mengulurkan roti ke arah pengemis.
                “Alhamdulillah.” Pengemis itu langsung memakannya dengan lahap.

                Abu zuhdi lalu pulang. Di rumah, dia langsung disambut ketiga anaknya dengan heran.
                “Ayah, mana sekerat roti itu?” tanya mereka.
                Abu Zuhdi menceritakan apa yang terjadi dalam perjalanannya.
                “Kalau begitu, sekerat roti yang kita miliki memang rezeki bagi pengemis itu. Biarlah Ayah, kami bisa menahan lapar hingga esok,” kata si Bungsu sambil menghentikan tangisnya.

                Sesaat kemudian, pintu rumah mereka diketuk. Ternyata yang datang adalah Abu Salman, sahabat Abu Zuhdi. Abu Salman membawa sebuah kantong berukuran besar.

                “Sabahatku, Abu Zuhdi. Alhamdulillah, hari ini daganganku laku semua. Untuk itu, aku ingin memberikan sepuluh kerat roti untuk anak-anakmu,” ujar Abu Salman.
                “Untuk apa pemberianmu ini, wahai Sahabatku?”
                “Untuk seluruh kebaikanmu,” jawab Salman.

                Abu Zuhdi teringat pada roti yang diberikan kepada pengemis. Ia mengingat janji Allah bahwa setiap satu sedekah akan diganti sepuluh kali lipatnya. Kini, dia di beri sepuluh kerat roti dan ini membuktikan janji Allah benar adanya.

                “Alhamdulillah,” puji syukur dipanjatkan Abu Zuhdi tak henti-henti.

Baik Sahabat…..Jangan pernah menyesal ketika kita telah berbuat baik sekecil apapun itu.

"Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat. Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kejahatan, maka tiadalah ia dibalasi, melainkan dengan seumpamanya sedang mereka itu tiada teraniaya,"  (QS. Al-An'am : 160).

Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..

TANGAN YANG MENGANTAR KE SORGA


Apa yang sering kita lihat ketika sebuah acara silaturrahim ? ya ada sebuah tradisi ‘ tata krama ‘ salah satunya adalah kegiatan bersalaman hingga cium tangan terlihat di sana-sini. Istri mencium tangan suami, anak mencium tangan orangtua, menantu mencium tangan mertua, murid mencium tangan guru, bawahan mencium tangan atasan, karyawan mencium tangan majikan, si miskin mencium tangan si kaya, dan seterusnya. Tapi kegiatan mencium tangan yang berlangsung tersebut dalam pola yang sama dan nyaris kaku. Maksudnya, yang lebih muda usianya, yang lebih rendah statusnya, yang lebih lemah posisinya adalah pihak yang mencium tangan.

Jangan berharap kita melihat kebalikan dari hal itu terjadi, semisal ayah mencium tangan anak, suami mencium tangan istri, majikan mencium tangan bawahan, atau raja mencium tangan rakyat jelata. Mencium tangan telanjur dianggap mewakili gengsi, status, hingga harga diri.

Lain halnya dengan Nabi Muhammad, manusia paling mulia utusan Allah, justru mencium tangan dua manusia biasa. Tapi tangan-tangan itulah yang dimuliakan Allah, sekaligus tangan-tangan itu pula yang membawa pemiliknya menuju surga.

Seorang pria jelata mengadu kepada Nabi Muhammad. “Wahai Rasulullah, lihatlah tanganku sudah bengkak, retak-retak dan hancur !” Lelaki itu bekerja teramat keras demi memenuhi nafkah anak istrinya. Dia bekerja memecah batu di tengah teriknya matahari gurun pasir. Jangan heran jika tangannya menghitam, retak-retak, dan sangat kasar. Nasib telah mengantarkan PEJUANG KELUARGA itu kepada kondisi yang memprihatinkan.


Rasul terharu mendengarnya. Lantas Nabi Muhammad meraih tangan yang retak menghitam dan berdarah itu lalu menciumnya dengan sepenuh kasih sembari berkata, “Tanganmu inilah yang akan mengantarmu menuju surga.”

Di lain pihak, Fatimah menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh perjuangan. Putri bungsu kesayangan Nabi Muhammad itu dipersunting oleh Ali bin Abi Thalib yang saleh yang berpengetahuan luas lagi gagah berani, tetapi sangat miskin secara materi. Sejarah mencatat kegemilangan Ali di setiap pertempuran membela kaum muslimin, sekaligus mengibarkan kejayaan Islam. Kesibukan membela agama Allah membuatnya mempunyai sedikit waktu untuk mencari nafkah bagi keluarga. jadilah rumah tangganya hidup di bawah garis kemiskinan.

Fatimah tak kalah berat perjuangannya dalam merawat keluarga. Dia harus mencari dan membelah kayu bakar, menimba dan memanggul air, menggiling gandum, membuat roti, memasak, dan mengerjakan segala urusan dapur seorang diri. Di samping itu, dia juga mengasuh dan mendidik dua putranya yang lincah, Hasan dan Husein. Kalau tidak sedang sibuk di medan perang, Ali bin Abi Thalib turut membantu menggiling gandum dan pekerjaan kasar lainnya, tapi itu sangat jarang terjadi karena negaranya terlalu sering terancam oleh pihak-pihak lawan.

Gadis yang dulu menjadi idaman banyak pemuda terhormat itu sampai pada kondisi menyedihkan. Fatimah menemui ayahnya sembari berkata, “Lihatlah tanganku ini Ayah, Sudah kasar dan  retak-retak..”

Pekerjaan rumah tangga yang berat di kondisi lingkungan yang berat pula membuat tangan lembutnya berubah seperti tangan kuli. Fatimah hanya meminta agar ayahnya memberikan seorang pembantu supaya pekerjaan rumahnya menjadi lebih ringan.

Andai kita adalah ayah kandung Fatimah, tanpa pikir panjang kita pasti segera menyiapkan pembantu buat sang anak. Bahkan, sebagian ayah akan memarahi suami putrinya yang dipandang keterlaluan. Namun, Rasulullah tidak melakukan hal demikian. Nabi Muhammad tidak memberikan pembantu untuk putrinya, walaupun mampu menyediakannya.

Rasulullah meraih tangan Fatimah yang sudah kasar dan retak-retak, lalu menciumnya sepenuh kasih seraya berkata, “lnilah tangan yang akan mengantarmu menuju surga.” Rasulullah tidak ingin memanjakan putrinya sehingga dia menjadi wanita yang berjiwa lemah.
Kepada kedua pemilik tangan yang hebat itu, Rasulullah menyuntikkan semangat juang, nasihat yang menguatkan, dan penghargaan. Merekalah orang-orang bahagia karena tangannya menghasilkan pahala dan tiket menuju Sorga.

Dalam hidup, kita melihat jutaan tangan terluka demi mencari sesuap nasi. Tangan-tangan itu dapat ditemukan pada sosok di rumah kita sendiri; pembantu kita yang tak kenal lelah menyiapkan yang terbaik untuk kita majikannya. Tangan-tangan itu juga dapat dilihat di kantor atau perusahaan kita sendiri; para karyawan kita yang tetap bekerja keras dalam kondisi amat terbatas. Tangan-tangan itu dapat ditemukan di mana saja, tapi keberadaannya sering kita abaikan atau mungkin tangan-tangan itulah yang sering kita sakiti.

Setiap amal perbuatan kita pasti akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah di akhirat kelak. Nah, boleh saja tangan kita dicium orang atas alasan menghormati, namun kelak kita harus bertanggungjawab kepada Allah SWT, betulkah tangan kita benar-benar tangan mulia yang selalu melakukan kebaikan? Apakah tangan kita yang dicium ini betul-betul berjuang di jalan Allah? Jangan-jangan orang-orang itu terpaksa mencium tangan kita, atau justru tangan mereka yang sebetulnya lebih mulia dan lebih pantas kita cium?

Boleh saja kita mencium tangan orang lain, karena itu toh juga dilakukan oleh Nabi Muhamlad SAW. Tapi, apakah alasan kita mencium tangan itu sudah selaras dengan alasan Rasulullah. Apakah tangan orang yang kita cium itu benar-benar tangan yang berjuang di jalan Allah? Betulkah tangannya setia membela kebenaran? Apakah tangan itu tangan seseorang yang berbudi pekerti mulia?

Jangan-jangan kita mencium tangan orang yang sombong, yang perangainya dibenci Allah. Sehingga saat kita mencium tangannya, kesombongannya bertambah dan dia semakin lupa. Kita pun mencium tangannya bukan karena menghormati, tapi karena takut kehilangan pekerjaan atau jabatan atau yang lainnya. Kita tidak melakukannya dengan tulus.


Mengapa tangan orang-orang zalim kita cium dengan sangat hormat, sedangkan tangan orang baik kita abaikan? Mengapa kita justru memuliakan tangan-tangan yang selama ini menebar angkara murka?

Inilah kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi diri. Tanyakan kepada diri kita, sudah pantaskah kita dihormati? Atau sudah tepatkah penghormatan yang kita lakukan? Tidak seperti menebar penghormatan palsu, kita akan merasakan kebahagiaan jika menghormati orang-orang yang tangannya setia menebar kebaikan, apa pun statusnya.

Ya, Kebahagiaan sejati diperoleh dengan pengorbanan dan memuliakan orang yang berjuang di jalan kebenaran. Kebahagiaan tidak akan diperoleh dengan merendahkan martabat diri di hadapan orang zalim.

Apabila ada orang memberikan penghormatan kepada kamu, hendaklah kamu jawab penghormatannya dengan yang lebih baik atau kamu jawab penghormatannya itu (dengan yang sama). Sesungguhnya Allah menghitung segala sesuatu.” (An Nisa’ 86)

Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..

MELAWAN KESOMBONGAN

Setiap karyawan, apalagi yang baru, biasanya hersikap tunduk, patuh, ramah, bahkan ada yang suka menjilat atasan guna melanggengkan pekerjaan yang susah payah diperolehnya. Tidak demikian dengan Hamdan, lulusan pesantren itu berkomitmen bahwa pekerjaan juga bagian dari dakwah menegakkan kebenaran. Dia tidak takut kehilangan pekerjaan, sebab hilang pekerjaan bukan berarti hilang rezeki. Allah sudah menjamin rezeki hambanya.

Di sisi lain, kehadiran Hamdan membuat Mr. Kribo panas dingin. Melihat Hamdan dari kejauhan saja, Mr. Kribo buru-buru mengurung diri di dalam ruangannya. Selaku pemilik perusahaan, dia sudah menyuruh direkturnya untuk memecat si karyawan baru. Namun, perintahnya terpaksa dibatalkan, sebab si direktur melaporkan bahwa kinerja Hamdan sangat bagus dan untuk mencari pengganti yang setara dengan kemampuannya sangatlah susah. Memecatnya akan mengancam keselamatan perusahaan yang sedang dibelit utang miliaran rupiah.

Mr. Kribo mati kutu. “Bagaimana bisa nasib perusahaanku malah bergantung pada orang yang kubenci,” keluhnya. Anehnya, dia tidak mengeluh tentang perangai istrinya yang doyan foya-foya menghabiskan uang perusahaan miliaran rupiah seperti membuang garam ke laut.

Persoalannya bermula dari sikap Mr. Kribo yang tinggi hati, sombong, dan gemar merendahkan orang lain. Dia tahu betapa susah mencari pekerjaan zaman sekarang. Bahkan dia sering sesumbar, “Satu orang dipecat, seratus orang akan datang melamar kerja ke sini!” Dengan keyakinan itu, dia menggaji karyawan dengan rendah dan tidak memberikan hak-hak karyawan, seperti asuransi dan jaminan kesehatan. Dia berpikir tenaga karyawan dapat diperah sesukanya. Apabila karyawannya sakit hingga butuh biaya perawatan yang besar, bukannya membantu, Mr. Kribo malah berkata, “Di perusahaan ini kalian tidak boleh sakit, tapi boleh mati. Kalau sakit hanya merepotkan saja.”

Tidak puas hanya menyakiti secara lahiriah, Mr. Kribo juga menyiksa batin karyawannya. Sebagai wujud sikap hormat kepada atasan, atau mungkin juga rasa takut dipecat, para karyawan selalu menyapa dan bersikap ramah tiap berpapasan dengan Mr. Kribo. Namun, dasar Mr.Kribo, tiap kali karyawan menyapa dia malah diam saja. jika orang tersenyum kepadanya dia malah buang muka. Tatkala ada yang hendak bersalaman, dia justru berpaling. Anehnya, Mr. Kribo tetap bertahan dengan sifat congkaknya itu pada saat dia membutuhkan tenaga dan pikiran karyawan guna melunasi utang-utangnya yang segunung.

Harga diri yang kerap terluka membuat orang merasa tertekan. Para karyawan tak berkutik menghadapi perangai bosnya yang sangat unik. Tidak seorang pun berani menegur. Ketidakberdayaan karyawan membuat Mr. Kribo semakin bersikap sewenang-wenang.

Hingga hadirlah sosok Hamdan dengan keyakinan dan nyalinya yang luar biasa. Orang macam Mr. Kribo memang tidak bisa dinasihati lagi dengan omongan, hatinya sudah membatu, matanya buta dengan kebenaran. Hamdan memperlihatkan bahwa tidak semua karyawan bermental kerupuk, tidak semua orang takut dipecat. Ada orang yang mempersembahkan hidupnya untuk menyampaikan kebenaran, apa pun risikonya.

Mr. Kribo kesal Hamdan lewat begitu saja di depannya. Dia bersalaman dengan banyak orang tapi tidak dengan bosnya. Baginya, Mr. Kribo seperti makhluk yang tak kasat mata. Orang-orang takjub melihat keberanian Hamdan dan diam-diam memberikan dukungan.

Biasanya, karyawan sudah gentar jika dipanggil ke ruangan Mr. Kribo. Lain dengan Hamdan yang masih bisa tersenyum saat memasuki ruangan yang dijuluki tempat eksekusi itu.

Singkat cerita, Mr. Kribo menggertak Hamdan guna memukul mental karyawan baru itu. Tak disangka, Hamdan malah tenang-tenang saja dan berkata, “Kalau tindakan saya salah, berarti Bapak-lah yang paling salah. Saya cuma meniru Bapak yang buang muka saat disapa, berpaling saat diajak bersalaman.”

Tak disangka karyawan yang satu ini kuat sekali mentalnya. Mr. Kribo merasakan kerongkongannya tercekat. “Ba... baiklah! Kalau kau tidak bisa menghormati saya sebagai bos, setidaknya hormatilah saya sebagai manusia.”

Hamdan tersenyum dan menjelaskan, “Kalau mau dihormati, kita harus lebih dulu menghormati orang lain. Bagaimana orang akan menghormati Bapak sebagai manusia, jika perbuatan Bapak tidak mengindahkan perikemanusiaan?”

Tidak terima dinasihati Hamdan, Mr. Kribo merancang konspirasi keji dengan menyuruh para karyawan untuk menyakiti Hamdan dengan segala cara. Namun, karisma Hamdan ternyata lebih kuat, para karyawan malah melawan Mr. Kribo dengan mogok kerja secara massal. Kepala Mr. Kribo semakin pusing setelah karyawan memperkarakannya ke pengadilan atas masalah gaji yang di bawah standar, tidak diberikannya asuransi, uang lembur, Jamsostek, dan sebagainya. Kini Mr. Kribo mendapat balasan atas perangai buruknya. Bayangan jeruji penjara langsung menari-nari di pelupuk mata.

Rasa hormat yang tulus lebih membahagiaan daripada rasa hormat yang dibuat-buat. Kalau mau dihormati, mulailah dengan menghormati orang lain. Kebahagiaan akan diperoleh dengan saling menghormati.

“ Tiada masuk surga orang yg dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan “. {HR.Muslim}

“ Ada tiga perkara yg membinasakan yaitu hawa nafsu yg dituruti kekikiran yang dipatuhi dan seorang yg membanggakan dirinya sendiri “. {HR. Ath-Thabrani dan Anas}

Sumber : Ust.Aly, Motivator Ideologis
Read More..